Sejarah STAB Bodhi Dharma

Latar Belakang Pendirian

Perkembangan agama Buddha di Tanah air, khususnya di Provinsi Sumatera Utara, pada era tahun 80an mengalami kemajuan yang cukup pesat. Hal ini ditandai, antara lain dengan jumlah pembangunan rumah ibadah agama Buddha (vihara maupun cetiya) yang meningkat cukup pesat dibanding periode waktu sebelumnya. Juga jumlah organisasi pemuda Buddhis yang terus bertambah dimana para generasi muda Buddhis, khususnya yang berasal dari pelajar sekolah menengah dan mahasiswa semakin tertarik untuk mempelajari agama Buddha.

Tentu saja untuk melayani dan memberikan informasi mengenai agama Buddha kepada masyarakat dibutuhkan sejumlah tenaga penyuluh dan guru agama Buddha yang memadai, yang pada masa itu boleh dikatakan masih minim. Oleh sebab itu, beberapa lembaga agama Buddha mencoba melakukan pelatihan/penataran singkat terhadap tenaga penyuluh dan guru agama Buddha yang sudah ada pada masa itu untuk meningkatkan kualitas pemahaman terhadap agama Buddha.

Karena keterbatasan kemampuan, kegiatan ini tidak bisa dilaksanakan secara reguler dengan tingkat pelayanan yang lebih luas. Oleh sebab itu, sebagian tenaga penyuluh dan guru agama Buddha mencoba belajar secara mandiri (ototidak), misalnya dengan aktif membaca dan mencari literatur mengenai agama Buddha. Namun satu yang pasti, desakan untuk mengatasi minimnya jumlah kebutuhan akan tenaga penyuluh dan guru agama Buddha semakin kuat. Berdasarkan kondisi ini, beberapa tokoh Buddhis Sumatera Utara sepakat untuk mendirikan lembaga pendidikan tinggi formal yang diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut.

Lahirnya Institut Buddha Dharma Indonesia (IBDI) dan Institut Ilmu Agama Buddha (IIAB) Smaratungga Cabang Medan

Institut Buddha Dharma Indonesia (IBDI) didirikanbulan Agustus 1984 oleh (alm) Swabodhi Rusli, seorang tokoh Buddhis Kota Medan, yang terletak di Jalan Kepribadian Medan. Perkuliahan dilaksanakan setiap hari Minggu. IBDI banyak berjasa dalam menghasilkan guru agama Buddha yang saat ini telah tersebar di sekolah-sekolah baik di Sumatera maupun Jawa.

Institut Ilmu Agama Buddha (IIAB) Smaratungga sesungguhnya terletak di Ampel, Boyolali, Provinsi Jawa Tengah. Namun atas rekomendasi dari (alm) Romo Hadi dan perjuangan tokoh-tokoh Buddhis Kota Medan, IIAB dapat didirikan di Kota Medan sebagai cabang dari kampus induk Boyolali. Perkuliahan dilaksanakan setiap hari Senin-Jumat. Sebagaimana halnya IBDI, institut ini juga banyak melahirkan guru agama Buddha. Lokasi perkuliahan berpindah-pindah karena yayasan belum mampu memiliki fasilitas kampus permanen.

Lahirnya Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Bodhi Dharma

Karena terbentur oleh peraturan pemerintah, IIAB Smaratungga tidak diperkenankan mendirikan cabang. Di lain pihak IBDI juga harus diubah statusnya menjadi sekolah tinggi. Maka untuk mengatasi masalah ini, Bapak Tommy Tantawi, S.Ag (mewakili IBDI) dan Ir.Eddy Suyono Setiawan, MM (mewakili IIAB Smaratungga Cabang Medan) melakukan pembicaraan dengan pihak Direktur urusan Agama Buddha bidang Pendidikan Tinggi, Departemen Agama Republik Indonesia. Hasil pembicaraan ini adalah disepakati bahwa IBDI dan IIAB Smaratungga Cabang Medan melebur menjadi satu nama baru yaitu Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Bodhi Dharma, dengan Surat Keputusan dari Direktur Jenderal Hindu & Buddha No.DJ.V/53/SK/2002, tanggal 5 Agustus 2002. Bulan September 2003, STAB Bodhi Dharma mulai beroperasi. Perkuliahan untuk sementara dilaksanakan di sebuah sekolah swasta, Jalan Letjend S.Parman Medan, dengan jumlah mahasiswa awal sekitar 35 orang. Namun, sejak bulan Agustus 2006, STAB Bodhi Dharma beralamat tetap di Jalan Sawi nomor 26.